Menjemput UI
Hari pertama UI Trip
Suasana sore ini sedikit berbeda. Langit terlihat lebih merah,teduh dan terlihat sangat bersahabat. Bersama 7 orang adik-adik dari Pati, kami menuju UI, kampus impian banyak orang.
Mereka berangkat untuk menempuh bimbingan belajar dan orientasi kampus UI yang diadakan oleh KOMPI UI (paguyuban mahasiswa pati di UI). Suasana kali ini, tidak begitu mengharu biru, seperti momen- momen keberangkatan yang sering kita lihat di dunia pertelevisian. Tidak ada scene dimana orang tua menangis dan kemudian memeluk anaknya. Bu luluk, Bu Yuharini, Pak Nur bersama dengan beberapa orang tua anak yang lain, terlihat tegar. Mereka tidak sedih, juga tidak terlihat takut. Mereka terlihat sedang menerawang jauh ke depan, membayangkan anaknya benar-benar menjadi anak UI. Saya yakin, mereka pasti memiliki banyak harapan pada putra putrinya. Harapan yang indah, yang selalu menjadi sebuah momen bahagia jika benar-benar terwujud. Sekarang, mereka terlihat memiliki harapan anaknya benar-benar bisa masuk UI.
Sambil menunggu Haryanto, kami mengobrol ringan. Haryanto bukan penjual bakso sebelah rumah saya, juga bukan penjual mie ayam enak yang ada di simpang lima Pati. Haryanto adalah nama bus. Bukan nama becak, apalagi nama ojek. Walau tidak penting, saya pun merasa harus memperkenalkan Bus Haryanto kepada teman-teman semua di sesi lain. (sebagai balas budi, haha)
-back to true scene-
Saya, Pak Nur, Bu Yuharimi, dan Bu luluk, mengobrol ringan. Sementara anak peserta UI trip, sedang asyik mengobrol satu sama lain. Di sela obrolan saya dengan Pak Nur, beliau berkata, ” Saya titip Maulidina ya nak Muhyi, kalo ada apa-apa bilang aja”, Kemudian diikuti perkataan serupa dari orang tua lain. Saya menjawab dengan senyuman, dalam hati saya bergumam,”Pasti pak, pasti, smoga keberangkatan ini bukan menjadi yang pertama, semoga tahun depan saya masih bisa berangkat bersama mereka (dengan title mahasiswa UI).
Bagi sebagian orang pejalanan ini mungkin biasa saja,
Prospek Kerja dan Passion
Tulisan ini didedikasikan untuk adik-adiku yang sekarang sedang bingung memilih jurusan mana yang harus diambil untuk memulai langkah baru, masa depan baru.
Seri 1
Cinta, Kesukaan, Hobi, Kecenderungan, semua hal itu terangkum dalam satu kata : Passion. Sebuah kata yang mungkin sudah sering kita dengar. Sering kita artikan sebagai bentuk bakat dan kecenderungan hobi setiap orang. Bagaimana menciptakan masa depan yang beriringan dengan passion?
Prospek Kerja merupakan satu hal yang selalu dipikirkan setidaknya oleh setiap orang yang akan masuk ke Perguruan Tinggi. Percaya atau tidak, semua orang pasti memikirkan itu. Termasuk saya, orang tua saya, saudara saya, teman-teman saya, dan banyak orang di luar sana. Orientasi orang-orang cenderung pada jurusan Perguruan Tinggi yang memiliki prospek kerja menjanjikan dan bergaji besar. Ya, saya pun dahulu seperti itu. Saya selalu memikirkan bahwa saya harus kuliah di jurusan teknik karena saya ingin menjadi penemu teknologi baru dibidang robotik. Pernah juga terpikir bahwa saya harus kuliah di kedokteran, karena dokter itu gajinya besar, mapan, dianggap terhormat oleh masyarakat dan sangat mulia, orang tua mana coba yang tidak ingin anaknya menjadi dokter? bahkan saya pernah sangat amat yakin bahwa saya bisa masuk Sekolah Dinas Favorit di Jakarta. Disana saya akan terjamin, pendapatan financial tinggi, kerja ringan, dan bisa lebih sering bersama keluarga, karena profesi saya nantinya sebagai seorang pegawai negeri. Tapi seiring waktu saya sadar, bahwa saya tidak begitu suka angka. Apakah ketidaksukaan saya pada angka dapat mengantarkan saya menuju kesuksesan jika saya memilih mendaftar Sekolah Dinas itu? Tidak kawan, masa depan kita belum tentu semulus itu, jika kita pun tidak menyukai proses pembelajarannya.
Refleksi BACA SELANJUTNYA
Lari itu bukan Aku
Sebuah ambisi, sebuah kepercayaan, sebuah tanggung jawab, sebuah tugas, berbagai tumpukan beban, dan semua hal membuat pundak ini semakin berat. Semuanya berputar-putar di kepala ini. Bukankah semakin berat beban kita maka semakin kuat pula diri kita? Aku masih sangat yakin dengan paradigm yang umum kudengar saat meminta nasehat orang. Hari ini aku ingin sedikit berceloteh tentang beratnya beban. Bukan untuk apa-apa, tapi hanya untuk memastikan bahwa aku tidak pernah lari dari beban yang memang sudah ada di pundak.
Satu kata : SERU!!!
Pernahkah kau merasa darah memuncak, semangat menderu-deru, tenaga serasa tak ada habisnya, keringat mengucur tapi jantung terus berdegup merasakan sebuah suntikan hormon adrenalin yang tidak pernah habis? BACA SELANJUTNYA
Mari Melangkah
Aku selalu membayangkan bagaimana jika aku menjadi Nobita. Seorang anak lugu yang mempunyai robot penolong, Doraemon. Semua barang ada di dalam kantong ajaibnya. Semua masalah dengan mudah dapat di atasinya. Racauan ini pun masih terbawa saat detik detik menuju Ujian Nasional, aku masih berharap disebelahku ada Doraemon. (Terbahak mengingat kenangan putih abu-abu)
Ujian Akhir Nasional. Ujian yang menentukan nasib pelucutan pakaian putih abu-abu. Jika kamu lulus, seragam itu akan otomatis terlepas, berganti menjadi perpaduan baju bebas yang dapat berganti setiap hari. Jika kamu gagal, seragam itu juga akan otomatis terlepas, tapi predikat putih abu-abu tetap akan menempel. Predikat lulus tidak lulus tetap akan diingat orang. Dan itulah yang menjadi momok menakutkan bagi sebagian siswa siswi di pulau-pulau Indonesia. Takut tidak lulus.
Sangat jelas teringat, bahwa aku pun dulu takut. baca selanjutnya




